Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Agustus 2018

Daya Beli Turun ???

By. Rhenald Kasali.

Saya kok ragu, daya beli turun. Kajian yg kami lakukan pada dataran mikro, menunjukkan uang sedang berpindah (Shifting), dari kalangan menengah ke atas, ke ekonomi rakyat. Dan para elit sekarang sedang sulit, karena peran mereka sebagai "Middleman" pudar akibat Disrutive Innovation, lalu mereka teriakkan "daya beli turun".

Saya cek di tiga titik :

1. JNE.
Ini adalah jaringan logistik, yg market share-nya sudah di atas PT Pos, dan nama perusahaannya disebut oleh semua bisnis online. Di JNE saya dapat data, bahwa pegawainya ditambah terus utk melayani pengambilan dan pengiriman logistik. Penambahan SDM dalam bbrp bulan terakhir mencapai 500 orang.

Tak banyak orang yg tahu, bahwa konsumen dan pedagang beras di Kalimantan, kini lebih banyak membeli beras dan minyak goreng via tokopedia, dari Surabaya, Lombok, Makasar dll. Juga tak banyak yang tahu, bahwa angkutan kargo udara dari Solo, naik pesat utk pengiriman garmen dan barang2 kerajinan. Juga dari kota2 lainnya. Artinya, usaha2 kecil dan kerakyatan mulai diuntungkan.

2. Retailer.
Aprindo melaporkan, penjualan yg dicapai anggotanya semester 1 sales drop 20%. Ini mulai mengikuti pola angkutan Taksi, yg sudah turun sekitar 30-40% tahun lalu. Apakah karena daya beli..?? Bukan..!! Penyebabnya adalah Shifting ke Taxi Online..!! Sama halnya retail dan hotel, yg beralih dari konvensional ke online.

Artinya, bukan daya beli yang drop, bukan juga karena keinginan membeli yang turun, melainkan terjadi Shifting.

3. Produsen besar FMCG.
Hampir semua yg kami temui mengakui, omset mereka naik 30-40%. Mulai dari tepung terigu kami cek ke Bogasari, hingga obat2an (Consumer Health) kaki cek ke Kalbe. Demandnya masih naik pesat. Tetapi produsen seperti Gulaku, mengaku drop karena kebijakan HET yg dikontrol pemerintah.

Lalu, siapa yg pendapatannya turun, dan mengapa turun..??

Jawabnya, yg turun adalah grosir2 besar yg biasa membayar kepada produsen mundur 45 hari-3 bulan. Diantaranya adalah supermarket2 besar, yg biasa "ngerjain" UMKM dengan menunda pembayaran. Kini dengan munculnya dunia online, maka supermarket besar kekurangan pasokan. Produsen besar juga menahan stoknya, lebih mengutamakan membuka jalur distribusi baru.

Berkat Tol laut, kini para agen-agen penyalur FMCG yg berada di Lombok, NTT, Maluku, Sulawesi dll, bisa mendapat barang langsung dari produsen tanpa melalui Middleman di JKT, Bandung, Surabaya dll.

Kini penerimaan para Middleman besar di P. Jawa itu kehilangan pasar. Demikian juga supermarket2 besar, yg terbiasa menjual kepada para agen di masa lalu. Kini mereka juga dibatasi, karena para produsen mulai menata jaringan distribusinya, berkat infrastruktur yg bagus, dan kedatangan kapal yg lebih rutin (kebijakan tol laut). 

Itulah yg mereka keluhkan dengan "Daya Beli Turun". In fact, pasar bergeser dan pemerataan tengah terjadi, walaupun belum sampai ke bawah sekali (kelompok prasejahtera). Namun "kekayaan" kelompok mapan di P. Jawa (khususnya para Middleman) tengah tergerus.

Semoga kita bisa sedikit lebih jernih melihat, bahwa pembangunan infrastruktur dan tol laut ini, menimbulkan dampak shifting yg besar, dan dlm jangka panjang, mudah2an baik bagi pemerataan. Tinggal "Tax Policy" utk menangani "The Plutocrats" (kalangan superkaya) yg jumlahnya sedikit, tapi menguasai banyak.

Salam.

Sumber : Sate Jawa

Sabtu, 30 Juni 2018

Kretek Warisan Nusantara

Saya juga penikmat rokok sejak dahulu, dan sepertinya banyak hal yang selalu kambing hitamnya adalah Rokok. Yang saya mau bilang adalah dulu Leluhur kita tidak pernah menderita Kanker Laring (red.kanker tenggorokan).
Karena kenapa ??? Leluhur kita menikmati Rokok Kretek Asli Nusantara, sehingga mereka bisa menikmati masa hidup lebih lama.

Kalau anda penikmat rokok putih dari bangsa asing, sudah jelas tidak menyehatkan sama sekali, mungkin maaf Mendiang adalah penikmat rokok sejenis itu, karena saya membaca berita dibeberapa media, tidak ada keterangan jelas rokok jenis apa yang dikonsumsi mendiang.

Terus terang saya adalah penikmat Rokok Asli Nusantara yaitu Rokok Kretek karena berasal dari Tembakau Asli, bukan akal-akalan kertas diberi aroma tembakau lalu dibuat seakan-akan tembakau asli.
Dan sampai sekarang saya belum pernah membaca, ada berita dunia, yang menyebutkan seseorang meninggal akibat menikmati Rokok Kretek.

Ini Kutipan dari salah satu artikel yang saya kumpulkan :

Koordinator Masyarakat Bangga Produk Indonesia (MBPI) Fahmi Idris mengatakan, Jatim adalah penghasil dan penyumbang pendapatan terbesar di sektor cukai. Dia mencontohkan, PT Freeport di Papua hanya menyumbang Rp 20 triliun dari royalti penambangan minyak, sedangkan rokok atau cukai di Jatim menyumbang lebih dari Rp 60 triliun. Namun dampak yang ditinggalkan dari PT Freepot terhadap pembuangan limbah harus dibayar mahal oleh negara dan buruk bagi lingkungan sekitar.

“Kretek layak jadi warisan budaya dunia seperti keris atau batik. Dunia telah mengenal minuman Sake dari Jepang dan cerutu dari Kuba. Dulu saya ketika jadi menteri sempat mengusulkan Kretek menjadi national heritage,” tegasnya.

Budayawan Mohammad Sobary yang menulis pengantar dalam buku Kretek itu menambahkan, isi buku itu menekankan jangan lupa di dalam rokok mengandung 3 sudut, yakni ekonomi, politik dan budaya. Rokok adalah produk kebudayaan dan kebanggaan bangsa Indonesia yang tidak bisa dibuat bangsa lain.

“Rokok juga menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir jika dilihat dari sudut ekonomi. Rokok dilihat dari politik juga menjadi titik tolak bangkitnya bangsa kita yang tidak bisa dijual ke bangsa lain,” imbuhnya.
#RokokKretekNusantara
#KretekItuMenyehatkan
#HisapTembakauBukanKertas
#AyoMerokokKretekNusantara

Pranata Luar:
www.Perpustakaan.TanahImpian.pedia.id

Salam Kretek Nusantara